IKUTAN DAPETIN GIVEAWAY
GRATIS DI MEDIATIZEN.COM

MAU DONG!

Jan 13, 2020 - 22:04
pb1
post image

Ruang Hidup

Kau bilang kita ini satu? Kau akan kita bersama-sama bertanya kepada Tuhan menagih pertanggungjawaban, meminta kesembuhan. Namun, Bhima, aku akan memulihkan, untuk kamu, untuk kita, bahagialah di mana saja kamu berada, aku akan mengizinkan ayah dan ibu.


Aku terbangun karena suara teriakan dan berbagai keributan. Dari tempatku tertidur di ruang keluarga, aku suka melihat diriku sendiri sedang membanting remote dan membenturkan kepemilikan pada lantai. Aku tahu apa yang terjadi tapi aku tidak bisa melakukan apa pun selain menonton keributan ini. Wanita cantik kesayanganku tampak mulai gusar dan mata cantiknya perdebatan mataku, kebingungan. Aku bangun, mengambil botol yang wanita itu pegang, tanganku memutuskan transfer yang gemetar, kontras dengan reaksi tanganku yang kali ini anehnya cukup tenang.

"Tidak, Bara, kembalikan botolnya, kita sudah memutuskan tidak akan memaksanya untuk meminum itu lagi." Wanita itu berbicara dengan tenang, kontras dengan raut yang tampak lelah dan bingung.

“ Aku hanya ingin membuat keparat ini berhenti membuat keributan, bu. ”Makiku dalam hati, namun kakiku berhenti bergerak seperti menolak pikiranku tadi.

Iya, aku tidak bisa bicara dengan benar sementara aku bisa bersuara. Karena itu pula aku lebih sering bicara dalam hati, berharap ibu dan bapak akan megerti hanya dengan memikirkan wajahku, begitu pula kakakku, Kala Abhimata. Hari ini, Kala Abhimata berulah kembali, tidurku yang damai, membawaku pada kesulitan yang berisik ini. Kakakku sering berubah periode tantrum yang membuatku ingin membunuhnya saat menyaksikan aksi tantrumnya. Seperti membantah kakakku, akupun beberapa kali lipat periode itu malah tidak sesering dia. Aku masih diam dengan botol dalam genggamanku. Ibu tersenyum memandang mataku seakan mensyukuri karena aku mendengarkannya, lalu di dalam hati aku memaki berkali-kali lelaki yang menerima sama terus denganku itu. Ibu masih memegang kepala Bhima, berusaha melindunginya dari hantaman lantai. Tapi Bhima tidak menyerah, berontak sekuat tenaga melawan tenaga wanita kesayangan kami berdua. Lalu aku? Aku hanya bisa diam seperti manusia bodoh tidak berguna. Aku membalik botol di lantai dan mencoba melepaskan mereka, namun lagi-lagi ibu menggelengkan disetujui, menolak kehadiranku membantah dan saudara keparatku itu.

“Bara masuk ya, lanjutkan tidur ya, Sayang. Tidur, jangan lakukan apapun! ”

Aku tersenyum mengiyakan, dan berjalan menuju kamarku untuk melanjutkan tidur. Lebih suka yang ibu inginkan, tetapi saya suka masuk kamar dan berjalan bolak-balik di sebelah tempat tidur dengan menggendong erat boneka beruang merah kesayanganku. Aku tidak bisa tenang setiap kali ibu bernapas bertindak Bhima tanpa bapak. Bagaimana saya bisa tenang, bahkan tubuh ibu tidak lebih besar dari Bhima yang fisiknya tumbuh dengan baik selama 19 tahun ini. Aku mendengar teriakan Bhima yang terdengar semakin lelah, dan jeritan ibu yang terdengar pulih. Aku lagi-lagi menjadi pecundang di dalam kamar, memeluk boneka beruang merah semakin kencang setiap kali mendengar ibu menjerit tertahan, aku lagi-lagi berjuang bersembunyi seperti perempuan.

Tidak lama saya mendengar suara mobil bapak. Tanpa sadar aku tersenyum, seakan hadir bapak menjadi oksigen untuk pecundang sepertiku. Aku duduk di tepi ranjang sambil memberikan oksigen dengan cara terluka. Aku mencoba memulihkan suara di luar sana, berharap Bhima kembali tenang dan menyenangkan. Hingga seseorang mengetuk kamarku, dan aku segera membuka laci meja mencari kotak P3K. Saat sebelum ibu masuk, aku tau pasti ada luka di tubuh ibu. Tapi sebaiknya merawat luka ibu, ganti ibu yang mengambil alih obat merah dan menarik tangan kiriku yang berusaha keras ku sembunyikan.

“Tidak apa-apa, ibu baik-baik saja, tadi kan ibu minta adek tidur, Sayang. Kok malah luka seperti ini sih? ”Ibu mencium pipiku dan mulai membersihkan darah di lenganku.

“K eparat! Dasar bodoh! Bhima keparat! Bara brengsek ! ”Makiku dalam hati.

Hatiku benar-benar sakit setiap hal ini terjadi. Kenapa aku tidak bisa sedikit saja membuat ibu berhenti khawatir, Berpikir tidak bisa lagi hanya aku yang berbicara dengan kesulitan untuk menenangkannya. Aku mengatupkan kedua tanganku, menggosok-gosok telapak tanganku memohon ampun pada ibu atas kebodohanku, hingga terasa panas pada telapak tanganku.

“Tidak apa-apa, ibu tidak marah, Sayang. Kali lain coba kendalikan dirimu adek, kan sakit kalau gigit lengan sendiri sampai berdarah begini. ”

Aku masih setia di pergerakan tanganku memohon ampun.

“Kamu pasti khawatir ya? Abang baik-baik saja, bapak sudah pulang. ”

“ Bu aaf, maafkan abang dan aku. ”Seruku dalam hati dan menangis.

"Jangan menangis, Sayang, di dunia ini tidak ada yang perlu kita takutkan."

Aku berdiri, meninggalkan ibu yang masih merawat lenganku. Berbelok ke kanan ke Arah kamar Bhima. Sampai di depan pintu aku masih takut bagaimana melihat wajah Bhima yang pasti babak belur. Tapi kalimat ibu barusan muncul membawa keberanianku. Di dunia ini tidak ada yang perlu kita takutkan.  Aku membuka pintu dan melihat bapak baru mengambil kotak P3K di sudut kamar Bhima. Kemudian melihat Bhima yang tertunduk dengan tangan seperti sedang bermain pesawat. Dia sedang dipindahkan emosinya. Aku berjalan mengambil bapak dan mengambil kotak di tangan bapak, lalu menggiring bapak untuk keluar dari kamar Bhima tanpa suara. Bapak yang suka kuharapkan, keluar kamar dengan tersenyum dan menepuk pundakku.

" Anak baik , ayah obat ibu dulu, abang sedang berusaha reda."

“Terima kasih, Pak. Aku mencintaimu, aku mencintai ibu, kita berdua sayang bapak ibu. ”  Aku berusaha menyuarakan kalimat itu dengan senyum.

Aku menutup pintu kamar Bhima dan membuka kotak yang tadi ku letakkan di sebelah Bhima. Melihat Bhima saat ini, seperti melihat lelaki besar yang sibuk dengan dunianya, seperti melihat diri sendiri. Aku tersenyum melihat kami berdua yang tampak tetap sama sambil mengenakan baju berbeda. Aku suka kaos dan celana pendek, dan Bhima sangat suka dengan kemeja dan celana panjang, tampan, sepertiku. Bhima menoleh ke Arahku, masih mencoba seperti pesawat lepas landas dengan bibir mengerucut namun uratnya tidak lagi terlihat seperti sebelumnya. Emosinya sudah reda.

Aku mengerti, apa yang harus dilakukan? ” Aku tahu, sebenarnya mungkin hanya aku yang bisa mengetahuinya dengan baik. Dia tidak mau minum obatnya lagi karena obat itu menguras energinya. Terakhir kali aku dan ibu bereaksi meminum obat penenang itu agar Bhima mau ikut minum, dan akhirnya kita bertiga pingsan di ruang tengah dengan tubuh mati rasa. Dan sejak itu aku tahu, obat itu membantah membuat Bhima marah setiap kali meminumnya.

Tantrumku dan tantrum Bhima tak ada bedanya. Setiap kali kita bergerak, kita harus memindahkannya dengan hal-hal yang kita suka, pesawat bagi Bhima dan beruang merah untukku. Tapi saat dua hal itu tidak mampu menghilangkan kami, maka kami akan melukai diri sendiri. Sebenarnya membenturkan kepala dengan segala sesuatu yang keras atau dengan tangan besar kami adalah bentuk rasa kesal kami pada diri sendiri karena membuat ibu dan bapak khawatir, kami berusaha keras tetapi melihat bapak dan ibu memunculkan kami khawatir membuat kami berfikir, dan memperbanyak melihat Bhima saat ini . Hidungnya berdarah, didukung penuh dengan bekas gigitan.

Meskipun satu yang paling memahami satu sama lain, saat salah satu dari kami sedang marah dan kami berusaha mempertimbangkannya, yang terjadi adalah kami berdua akan sama-sama mengamuk, bersama-sama, membangkitkan amarah dan luka sama berbaring. Itu menyangkut ayah dan ibu tidak akan memperbolehkan kami saling berhubungan sebelum reda. Kemudian akan saling bergantung Setelah reda untuk saling pulih. Aku masih membersihkan saat dia tersenyum melihat aku-giginya masih ada warna darah di sana. Seharusnya milik cokelat miliknya sama. Saat berdua kami seakan bisa saling mendengarkan satu sama lain.

“S akit sekali tanganku. ”Kalimat itu terbaca dari penampilan yang menampilkan gigi itu. Aku membuka baju dan memutar lenganku yang berbekas gigitanku sendiri lalu tersenyum. “A ku juga sakit. ”Kataku menenangkan.

"A ku takut, ibu tidak apa-apa ?"

“ B apak sedang merawat ibu. Jangan takut, ada bapak, ada aku, ada ibu. ”Kami bertukar kesenangan dalam hati, seperti biasa.

Aku membersihkan hidungnya tetapi darah tidak mau berhenti mengalir sampai lama sekali. Ibu dan Ayah mendengarkan pintu dan masuk saat aku sedang bersiap-siap untuk melihat darah segar dari saudaraku. Anehnya, Bhima masih saja tersenyum memamerkan giginya seakan tidak merasa sakit. Bhima menjatuhkan diri untuk terbaring di atas ranjangnya, masih tersenyum, tetapi dengan sorot mata yang khawatir. Bapak mengambil kain di tanganku, mengambil alih darah sementara ibu berdiri di samping bapak merawat luka di tangan Bhima. Sementara aku mencerna tatapan Bhima yang penuh dengan didukung.

“ Bara, aku takut, kakiku dingin, badanku menggigil. ”Giginya sekarang sudah bersembunyi.

“ T idak ada yang peru ditakutkan, ada bapak, ada ibu, ada aku, sebentar lagi darahmu akan berhenti. “Tanpa sadar aku menggigit lenganku lagi.

Wajah Bhima tampak sayu, ayah menghela napas, ibu beteriak keras dan menangis, hingga beberapa saat aku baru sadar Kamar Bhima penuh dengan orang-orang. Aku tidak lagi menggigit lengan, aku mengambil beruang milik Bhima untuk ku gigit. Menatap wajah Bhima yang tertutup, tapi aku masih mendengarkan Bhima.

“ Aku butuh hidup , aku ingin hidup. ”Ucap Bhima dalam satu tarikan napas.

“Tenang di sana, Bhima sayang.” Itu suara ibu.

Kemudian sepi, tak ada suara. Sementara aku melihat mulut ibu bergerak dengan air mata yang tak berhenti. Orang-orang menghampiri ibu. Bapak berlutut di sebelah ibu menunduk dengan membawa ibu bawa bawa. Kemudian lirih berbicara, dibahas tak terdengar.

"Bhima kita, pasti tenang di sana, Bu." Bisik bapak.

Aku melotot. Aku gusar, baru memulai maksud pembicaraan.

“ T idak, Pak, Bhima bantal. Bhima butuh hidup, Pak. Bhima tidak tahu harus kemana, Bhima butuh kita. Pak, Bu .. . Bhima tidak ingin kemana-mana. 

Aku menangis, melempar beruang Bhima, menyatukan kedua telapak tangan dan menggosok terus menerus terasa panas, memohon maaf karena tidak bisa menemaninya lagi, tidak bisa memperbaiki lagi, tidak bisa merawat bekas lukanya lagi, aku suka. Aku, lelaki 19 tahun, Kala Abhiwara, kehilangan separuh diriku yang dibawa oleh Kala Abhimata entah kemana.

Seminggu perginya Bhima, aku masih di atas ranjang milik Bhima memeluk beruang merah dan beruang coklat milik Bhima.

"Abang sudah sembuh, abang tidak akan berdarah lagi, tangan abang sudah tidak ada bekas luka, abang sehat dan bahagia bersama Tuhan, Sayang."

D ari mana ibu tau?"

"Tadi malam abang datang waktu ibu tidur, katanya abang senang sekarang, ibu harus jagain Bara sampai Bara bisa bicara, ibu dan ayah sayang Bara."

“A..aakuu ss..ssyang ibb..bu baapak.” Aku berusaha bicara sekuat tenaga.

 

Aku sayang kalian, temani Bara berjuang, Bu, Bara pasti bisa.

Bhima, kau keparat! Bagaimana bisa kau pulang lebih dulu?

Kau bilang kita ini satu? Kau akan kita bersama-sama bertemu Tuhan menagih pertanggungjawaban, meminta kesembuhan.

Namun, Bhima, aku akan memulihkan, untuk kamu, untuk kita, bahagialah di mana saja kamu berada, aku akan mengizinkan ayah dan ibu.

Bhima, doakan aku dari sana, bebaskan bicara pada tuhan, bebaskan aku dari autisme yang bikin ibu dan bapak disetujui mendorong.




Jika Anda merasa bahwa Artikel ini bermanfaat, Anda bisa membagikannya ke keluarga, sahabat,
teman, pacar atau bisa juga kalian share ke Facebook, Twitter, WhatsApp, Pinterest & LinkedIn
.

Silahkan tulis komentar Anda sesuai dengan topik halaman berita ini. Komentar yang berisi SPAM!
tidak akan ditampilkan sebelum disetujui oleh team kami. (berkomentarlah dengan baik dan sopan)

Seluruh isi konten adalah sepenuhnya hak milik Mediatizen, jika mengambil isi konten dari
Mediatizen, harap mencantumkan sumber konten website Mediatizen. Seluruh isi konten
Mediatizen, mengandung hak cipta yang diterbitkan oleh para penulis (kontributor) Mediatizen.com.

loading...


Apa Reaksimu?

{{ postReactions[reaction] }}
{{ reaction }}
Author
Arum Penulis Terverifikasi
Rahasia LDR (Jarak Jauh) Agar Pasangan Kamu Semakin Penasaran Sama Kamu
Rahasi tips tips LDR (Pacaran Jarak Jauh)
Tip Sukses - Cinta Mengalahkan Segalanya
Cinta Mampu Mengalahkan Segalanya
Terlibat Jalinan Romansa di Kantor, Contek Tips Ini
cinta dimulai karena terbiasa bertemu. Hal ini yang mungkin menjadi alasan beberapa orang terlibat jalinan asmara di tempat kerja
Bersawala dalam Senja
Puisi Dalam Senja
Bu
Budie
[Author - Netizen]
Bguas ceritanya mba @Arum
atau untuk menulis komentar

BERITA ACAK
Contek Cara Entrepreneur Kosmetik Kembangkan Bisnisnya
Contek Cara Entrepreneur Kosmetik Kembangkan Bisnisnya...
Prediksi Bisnis Online yang Jadi Tren 2020, Siapa Tahu Bisa Cuan!
Agar bisa mendulang pundi-pundi uang di tahun ini, ada beberapa bisnis online ya...
Lagu Kahitna 'Soulmate' Dijadikan Sebagai Pertanda, Suami Dari Bunga Citra Lestari (BCL) Meninggalka
Soulmate, Cinta yang tak bisa digapai ( Lirik )...
Kronologis Lengkap Wafatnya Gugum Gumbira, Sang Maestro Jaipong
Kronologis Lengkap Wafatnya Gugum Gumbira, Sang Maestro Jaipong...
ARSIP