IKUTAN DAPETIN GIVEAWAY
GRATIS DI MEDIATIZEN.COM

MAU DONG!

Jan 13, 2020 - 21:58
pb1
post image

Melalui Diam dan Menahan, Cerita Ini Berawal Dari Kisahku Sendiri (Curhat)

Khayalan ini terlalu berlebihan, mari akhiri. Jangan tahan apapun, jangan dahului takdir dalam keadaan bagaimana pun. Biarlah yang terbang bebas, tetap terbang. Biarlah yang mengalir deras, tetap mengalir. Biarlah semesta yang menghubungkan semua yang telah terukir. Langit lebih tahu kapan setitik air hujan menyapa tanah yang gersang. Bukankah kita telah sama-sama terbiasa untuk melepas apa yang tidak pantas? Namun apabila waktu mengizinkan asumsi-asumsi ini terbukti, kisah ini adalah yang akan kugaungkan pada dunia pertama kali. Bahwa melalui diam dan menahan, semua cerita ini berawal.

Aku suka mengenalmu dengan baik sejak beberapa tahun yang lalu.

Meskipun semua persepsi yang terpoles ayu dalam ingatanku nyanyian dari bibir kering yang melantur halu. Kita tak pernah terduduk di atas kursi yang sama pada nyatanya. Kita adalah individu-individu yang duduk sendiri-sendiri, tak pernah saling mengisi walau melontar sapa pemecah sepi, diisi basa-basi. Membungkam naluri, saling memunggungi. Engkau sibuk menikmati ritme denyut nadimu sendiri, begitu pun aku.

Aku suka mengenalmu dengan baik sejak beberapa tahun yang lalu.

Lewat pesan tak bersuara yang disampaikan disampaikan netra. Menyorot tajam, menghujam perasaan. Dilumuri kuluman senyum atau anggukan kadang. Sejenak, tapi mampu membuat benih renjana beranak pinak. Kau tak pernah tahu bagaimana mungkin semu itu meracun kalbu. Ingin menaburi biji mata dengan bubuk mrica agar tak ada lagi waktu-waktu lain yang lumpuh sementara. Karena saat fokus kita beradu, mendadak Kehidupan dunia terjeda. Ah ... lagi-lagi, mungkin ini lebih dari suara hati dan nafsu yang terus berdebat. Ingin sekali kuberima, tutup mulut !

Aku suka mengenalmu dengan baik sejak beberapa tahun yang lalu.

Pada satu terik di pinggir bengawan, dilatarbelakangi suara ricik sumbang kerumunan, untuk pertamakalinya kau bertanya, "Dek, kamu ... ada sandal?"

"Enggak, mas," jawabku terus terang.

"Aku juga enggak e ," sahutmu sambil melirik setengah badanku yang basah. Gerakan bola matamu membuatku berasumsi itu sedang dalam mode resah. Namun logikaku menghempaskan pernyataan itu kuat-kuat dan berkata: bukankah lumrah?

"Nggak apa-apa, mas ... aku pake ini."

“Sepatumu basah itu, lho…” tegasmu tak mendiamkan 'ketidak-apa-apaanku'.

"Nggak apa-apa, mas." Sahutku lagi. Kau pun menyerah. Keputusan, jawaban itu memang jawaban mujarab yang tak bisa dibantah. Membuat orang lain menjadi pilihan selain mendiamkan, padahal begitu mengesalkan.

Sebuah peluang bersejarah, bukan? Untuk dialog pertama. Pertama, dan terakhir sebelum kita terpisahkan ruang dan realitas.

Aku suka mengenalmu dengan baik sejak beberapa tahun yang lalu.

Apalagi aku mempercayai indra penglihatanku sendiri saat tiba-tiba bayanganmu muncul lagi. Sangat samar, karena keterbatasan jarak pandang. Namun, membalikkan mata di balik topi itu menjelaskan semua: tak ada orang lain yang melihatku selain kamu. Seakan ada kabar yang ingin kau sampaikan. Ada keresahaan yang ingin kau utarakan. Ada sudut pandang baru yang ingin kau bagikan.

Lagi-lagi, ini hanya pertanggungan.

Aku suka mengenalmu dengan baik sejak beberapa tahun yang lalu.

Khayalan ini terlalu berlebihan, mari akhiri. Jangan tahan apapun, jangan dahului takdir dalam keadaan bagaimana pun. Biarlah yang terbang bebas, tetap terbang. Biarlah yang mengalir deras, tetap mengalir. Biarlah semesta yang menghubungkan semua yang telah terukir. Langit lebih tahu kapan saja setitik air hujan menyapa tanah yang gersang. Apakah kita harus sama-sama yang berhak untuk melepaskan apa yang tidak pantas? Namun, persetujuan ini terbukti, kisah ini akan kugaungkan pada dunia pertama kali. Tunggu melalui diam dan tahan, semua cerita ini berawal.




Jika Anda merasa bahwa Artikel ini bermanfaat, Anda bisa membagikannya ke keluarga, sahabat,
teman, pacar atau bisa juga kalian share ke Facebook, Twitter, WhatsApp, Pinterest & LinkedIn
.

Silahkan tulis komentar Anda sesuai dengan topik halaman berita ini. Komentar yang berisi SPAM!
tidak akan ditampilkan sebelum disetujui oleh team kami. (berkomentarlah dengan baik dan sopan)

Seluruh isi konten adalah sepenuhnya hak milik Mediatizen, jika mengambil isi konten dari
Mediatizen, harap mencantumkan sumber konten website Mediatizen. Seluruh isi konten
Mediatizen, mengandung hak cipta yang diterbitkan oleh para penulis (kontributor) Mediatizen.com.

loading...


Apa Reaksimu?

{{ postReactions[reaction] }}
{{ reaction }}
Author
Arum Penulis Terverifikasi
Urutan Lahir Bisa Jadi Penentu Mulusnya Hubungan Cintamu, Nggak Percaya?
Menurut William Cane, penulis The Birth Order Book of Love, kepribadian anak sulung, tengah, bungsu, hingga tunggal dapat menentukan mulusnya jalinan romantismu.
Harus Coba Dengan Tip Ini Agar Pasangan Kamu Makin Lengket Kayak Perangko
Tips Cinta Agar Gebetan Kamu Nempel Kayak Perangko
Siapa Sangka, 5 Hal ini Bisa Ancam Harmonisnya Hubungan Cintamu
Nggak menutup kemungkinan jalinan cinta bisa mengalami masalah yang terkadang dipicu oleh hal-hal sederhana.
Kecanduan Cinta yang Tak Terbalas
Dia akan mencintaiku suatu hari
avatar
Vega
[Author - Netizen]
sama aq juga ka Miftah huhu :D
Mi
Miftah
[Member - Netizen]
terharu bacanx.......

menginspirasi ceritanya ka'
atau untuk menulis komentar

BERITA ACAK
Setelah Move On Dari Aurelie, Ello Kenalkan Pacar Barunya
Ello coba perkenalkan pacar terbarunya...
Mau Cepat atau Lambat yang Penting Teruslah Melangkah
Teruslah Melangkah Demi Tujuan...
Aplikasi Wajah Jadi Anak Kecil Viral dan Sangat Lucu
Banyak sekali pengguna aplikasi ini dari artis terkenal luar negri sampai artis ...
Membuat Diri Anda Cantik dengan Cara Anda Sendiri
Cantik adalah suatu anugrah...
ARSIP