IKUTAN DAPETIN GIVEAWAY
GRATIS DI MEDIATIZEN.COM

MAU DONG!

Jan 13, 2020 - 22:00
pb1
post image

Dua - Antara Aku dan Dian (Cerpen)

Kita terduduk di dua bangku. Di kafe langganan kita pada satu minggu sakit yang sendu. Meja di tengah menjadi pemisah. Duduk berhadapan dengan sedikit percakapan, kita disibukkan oleh bacaan dalam genggaman. Novel Kau pegang Hujan Bulan Juni karya Sapardi. Kucoba cerna kata-kata Nietzhe tentang eksistensialisme.

“Hati-hati baca Nietzhe, jadi atheis kau nanti,” katamu.

“Hati-hati baca Sapardi, jadi hujan kau nanti,” jawabku.

Begitulah, kalimat-kalimat absurd yang lolos menghiasi keheningan kita. Kadang-kadang muncul petir di antara gemuruh hujan. Atau riak-riak udara di danau yang tenang kompilasi tua pohon jati tertiup angin dan jatuh cinta.

"Lagian, kalau aku atheis, kita jadi bisa nikah, kan?"

“Sama yang beda agama aja nggak boleh, boleh saja yang nggak punya agama,” jawabmu dingin.

Manusia selalu berusaha menemukan (arti) cinta. Ada yang bilang cinta itu sangat besar. Ada yang bilang cinta itu pengorbanan. Ada yang bilang cinta itu ikatan yang membebaskan. Banyak orang bahagia karena cinta, tidak sedikit yang jatuh miskin. Karena cinta, beberapa orang menjelma pemberani, ada juga yang akhirnya memberontak. Cinta tak hanya mempersatukan, tetapi juga sering menggabungkan.

Kau dan aku saling mencintai. Kita tahu, mereka juga. Namun, perbedaan tidak pernah bisa dipersatukan. Tuhan kita sama, cara kita menujunya saja yang sedikit lebih berbeda. Kulepas sandal masuk ke rumah-Nya. Kaukenakan sepatu setiap kali menghadap-Nya.

"Permisi, Kak." Perempuan berbaju hitam menyela keheningan kita yang menyenangkan. Diletakkannya dengan hati-hati, ditata dengan rapi, setiap menu yang kita pesan tadi. Secangkir kopi susu dan latte  bermotif matahari. Kita tidak pernah menentukan siapa pesan apa. Milikku, milikmu, sama saja. Karena kita sebenarnya satu yang belum bersatu. Dua sendok es krim dan sepotong roti bakar rasa nanas berbentuk segitiga ikut meramaikan suasana meja. Vas bunga dengan tiga tangkai mawar yang masih segar sekarang tak lagi lagi. Diakhiri dengan ucapan selamat basa-basi selamat datang, kubalas terima kasih yang (juga) menyambut tradisi.

Kamu selalu heran kala melihatku makan es krim.

“Itu es krim, dingin, ngapain kamu tiup?” Tanyamu sembari tertawa.

"Ini ada asapnya, siapa tau dia panas, makanya kutiup."

“Sejak kapan es panas sih? Ada-ada aja deh. "

"Panas kan ada nya," jawabku sekenanya.

“Terserah, yang penting kamu jangan atheis. Kalau masuk neraka susah, di sana katanya panas, capek nanti kamu niupin api nerakanya. ”

“Kamu beragama lah yang baik, biar nanti masuk surga. Di surga nanti, katanya, semua keinginanmu terpenuhi, mintalah aku memenuhi ke surga juga. ”

Kau tidak menjawab, dan memang tidak perlu. Kau tersenyum kecil, mengambil pisau, memotong roti, kau tusuk dengan garpu, lalu kau memasukan ke rongga mulutmu. Saat itu aku tersadar, itu surga tidak perlu menunggu setelah kita mati. Saat ini, di sini bersamamu adalah surga. Kita menikmati kebersamaan dalam damai.

Orang bergelimang harta, tapi tenang tak tenang. Selalu merasa terancam oleh kesuksesan bisnisnya. Tidur tak nyenyak, makan tak enak, jalan pun gelisah. Itulah neraka. Sebaliknya, petani yang hidup di lereng gunung, hasil bercocok tanam cukup untuk makan sekeluarga, memilih rumah kecil yang tenang. Tiap sore bisa duduk santai sambil memandang hamparan sawah hijau. Hatinya sesejuk udaranya. Itulah surga.

Sebelumnya, “ Neraka adalah orang lain,” orang lain adalah neraka . Ah, dia benar setengah, orang lain juga bisa jadi surga, kan? Atau bisa jadi dua-duanya, kadang surga kadang-kadang, kan? Tergantung bagaimana kita mengingat, kan? Saat ini, bersamaamu adalah surga, kan? Tapi mungkin saja di masa yang akan datang nanti, ingatan tentang saat ini akan menjadi mimpi bagi kita, siapa yang tahu, kan?

Kau semakin tenggelam dalam bacaanmu. Sesekali kau angkat cangkir dengan tangan kananmu yang lentik, kauantar ke bibirmu yang manis, tanpa melepaskan pandangan dari susunan kata-kata indah yang berbaris rapi di bukumu. Kemudian kau tersenyum, kadang tertawa kecil, tetapi tidak pernah sampai terbahak. Aku pun berpesan padamu, "Kalau tertawa bagi-bagi, mau saja nanti dikira nggak waras."

"Nggak waras juga kau mau," katamu sambil julurkan sedikit lidahmu setelahnya, "Lucu ya si Sarwono ini jika cemburu. Kamu nanti kubikin cemburu juga, biar kayak Sarwono. ”

“Tolong, kalaupun berhasil kamu nggak berhasil tahu,” jawabku sekenanya.

Kopi kita tinggal terpisah, es krim yang sudah sudah meleleh memenuhi piring saji. Roti yang tersisa, artinya ini bagianku. Kau tidak pernah mau mengambil potongan terakhir. Padahal, yang terakhir itu merupakan potongan paling nikmat ke dua setelah potongan pertama.

Banyak sekali perbedaan di antara kita. Yang membuat tetap bisa bersama adalah karena kau dan aku tidak pernah mengerti perbedaan itu. Perbedaan bukan masalah. Masalah adalah apa yang kita anggap masalah, jika tidak kita anggap, maka itu bukan. Kutipan yang sangat saya suka dari Jack Sparrow.

Aku masih ingat jelas yang kau katakan waktu aku menyatakan perasaanku, “Dalam hubungan, komunikasi memang penting. Tapi di jaman sekarang ini, kompilasi komunikasi menjadi lebih mudah, kita menjadi gampang sekali tahu banyak akan sesuatu. Ketika itu terjadi, kita akan semakin banyak melihat di balik persamaan yang kita miliki, tersembunyi banyak sekali perbedaan. Saat perbedaan ini menjadi fokus pembicaraan, maka timbullah masalah-masalah baru yang sebelumnya tidak ada, dan sebenarnya tidak perlu ada.

“Aku pun menyukaimu, di dekatmu aku nyaman. Mari kita bersama dalam sunyi. Aku tidak suka terlalu banyak bicara. Jikalau nanti kita jalan berdua, cukup masing-masing kita masing-masing yang utama. Bersama membaca buku-buku kita, mungkin sesekali bercakap tentang hal-hal yang tidak penting. Aku sadar, dan kau pasti juga, jika kita begitu berbeda, kecuali dalam cinta. ”

“Kau mengutip puisi Soe Hok Gie dalam kalimat terkahirmu, kan? Setuju. ”

Sudah dua tahun berlalu sejak saat itu. Tapi aku masih ingat setiap kata yang terucap dari mulutmu, seperti baru kemarin rasanya. Tetes terakhir kopi masuk juga ke mulutku. Kita masih betah berlama-lama menikmati suasana. Tapi ini sudah setengah sakit, aku harus segera mengantarmu ke gereja.

“Nggak ikut masuk?” Tanyamu sembari turun dari motor di parkiran gereja.

"Nggak ah, nanti kalau pas kamu nyanyi aku malah adzan kan bahaya."

"Ya siap-siap dibaptis aja kalau berani gitu," katamu bercanda, "Ya sudah, mau nunggu di mana?"

“Di masjid sebelah aja, sekalian sholat. Paling lama sampai habis, baru selesai kan? Nanti ngobrol aja kalau sudah selesai. ”

"Oh, belum atheis? Alhamdulilah .... "kau berkata lirih di depan wajahku.

Berbisik aku di dekat telingamu, "Kalau Tuhan aja sampai aku tinggalin, boleh kamu nanti."

Kau diam sebentar, memandangku dalam, tersenyum kecil, kemudian berpaling. Aku pun pergi. Waktu berlalu, kita masih berbeda, sedang kau dan aku akan tetap bersama. Semoga




Jika Anda merasa bahwa Artikel ini bermanfaat, Anda bisa membagikannya ke keluarga, sahabat,
teman, pacar atau bisa juga kalian share ke Facebook, Twitter, WhatsApp, Pinterest & LinkedIn
.

Silahkan tulis komentar Anda sesuai dengan topik halaman berita ini. Komentar yang berisi SPAM!
tidak akan ditampilkan sebelum disetujui oleh team kami. (berkomentarlah dengan baik dan sopan)

Seluruh isi konten adalah sepenuhnya hak milik Mediatizen, jika mengambil isi konten dari
Mediatizen, harap mencantumkan sumber konten website Mediatizen. Seluruh isi konten
Mediatizen, mengandung hak cipta yang diterbitkan oleh para penulis (kontributor) Mediatizen.com.

loading...


Apa Reaksimu?

{{ postReactions[reaction] }}
{{ reaction }}
Author
Arum Penulis Terverifikasi
Tips Hubungan Jarak Jauh - Love From Miles Away
Tips LDR (Jarak Jauh)
Masih Hobi Ngeluh? Berubah Yuk!
Berubah demi masa depan
Bersawala dalam Senja
Puisi Dalam Senja
Ruang Hidup
Kau bilang kita ini satu? Kau akan kita bersama-sama bertanya kepada Tuhan menagih pertanggungjawaban, meminta kesembuhan. Namun, Bhima, aku akan memulihkan, untuk kamu, untuk kita, bahagialah di mana saja kamu berada, aku akan mengizinkan ayah dan ibu.
atau untuk menulis komentar

BERITA ACAK
Makan Alpukat Hari Ini, Sehat dan Bugar Hingga Masa Nanti
Alpukat adalah satu-satunya buah yang mengandung lemak tak jenuh tunggal yang se...
36 Kasus Telah Dihentikan, Demokrat: Ada Apa Dengan KPK?
Langkah KPK Yang Menghentikan 36 Kasus Tersebut, Bisa Menimbulkan Pertanyaan Bes...
4 Zodiak Ini Yang Bakalan Kamu Jadi Selebritis
Siapa tau nasib hidup kamu bakalan bisa mengubah sesuai zodiak berikut ini....
5 Cara Dapatkan Wajah Glowing Ala Wanita Korea
Sering dengar istilah glass skin akhir-akhir ini? Glass skin memang populer di K...
ARSIP